Tips

3 Langkah Mudah Memerangi Penipuan Online

igor / December 24, 2017

Secara global, ada industri penipuan yang setara dengan puluhan bahkan ratusan juta dolar yang terus tumbuh mencapai angka 11% per tahun. Jika dihitung kasar, ada setidaknya 27 kasus penipuan dari setiap 1000 kasus jual beli, dengan barang mewah atau digital sebagai barang yang paling sering dijadikan objek penipuan.

Di sisi lain, ada juga industri dengan nilai mencapai ratusan juta dolar juga, yang bergerak dalam usaha untuk mencegah penipuan-penipuan seperti ini, yang telah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik dalam mengidentifikasi dan memitigasi penipuan ini.

waspada transaksi online

Sayangnya, perusahaan-perusahaan ini menawarkan paket jasanya ini kepada pelanggannya yang berbisnis e-commerce, dengan harga mencapai ribuan dolar per bulannya, bukan solusi yang ideal untuk kamu yang masih merangkak sebagai pebisnis kecil atau menengah di bisnis ini.

Untungnya, ada beberapa langkah dasar yang bisa para bisnis kecil lakukan yang dapat secara dramatis memitigasi penipuan melalui kartu kredit. Dan bagian terbaiknya adalah cara ini bisa kamu lakukan dengan gratis (atau hampir gratis).

Cara Mudah Mencegah Transaksi Penipuan

Di dalam artikel ini, kami akan menyajikan langkah-langkah mudah bagaimana caranya untuk membuat perubahan keamanan dasar di gerbang pembayaran yang dapat menjaga perusahaan secara signifikan dan terhindar dari pembayaran palsu dan penipuan.

  1. Meminta Kode Keamanan Kartu

Jika kamu melakukan pembelian melalui telepon dengan retailer besar, kamu mungkin akan diminta untuk memberikan 3 digit kode yang adad di belakang kartu kredit kamu (4 digit untuk beberapa kartu kredit tertentu). Kode ini yang disebut dengan CVV, dan bisa bekerja sangat efektif untuk mencegah penipuan di eCommerce.

Hal ini bisa dilakukan karena banyak identitas kartu kredit yang dicuri tidak menyertakan nomor CVV, dengan meminta konsumen memberikan nomor CVV, kamu bisa mencocokan CVV dengan kartu kreditnya dan kamu bisa mengurangi kemungkinan terjadi penipuan dan pencurian identitas kartu kredit.

  1. Meminta Kode Pos

Di negara seperti Amerika, sistem ini sudah diterapkan sejak lama. Ketika konsumen membeli bensin di seluruh wilayah di Amerika, memasukan kode pos ketika menggesek kartu kredit saat pembayaran adalah prosedur yang sudah standar. Alasannya adalah setiap pom bensin menggunakan sitem pencocokan kode pos. Dengan cara ini, mereka memeriksa dan mencocokan kode pos ini dengan kode pos yang terdaftar di kartu kredit.

Alasannya hampir mirip dengan nomor CVV, kebanyakan penipu yang mencoba mencuri identitas kartu kredit tidak memiliki kode pos pemilik asli kartu kredit. Kode pos ini dianggap lebih aman karena tidak tertera sama sekali di kartu, jadi jika si pencuri sampai mengambil fisik kartu kreditnya pun tetap tidak akan bisa mengetahui kode pos yang terdaftar di kartu tersebut.

penipuan online

Curigai Transaksi yang Tidak Normal

Jika pembelian di toko online-mu biasanya di bawah Rp.500.000, akan sangat jarang konsumen yang akan membeli dengan jumlah mencapai Rp.1.000.000 atau lebih. Jika hal ini terjadi, mungkin kamu merasa senang tapi di sisi lain kamu juga harus tetap waspada.

Begitu juga sebaliknya, jika rata-rata orang berbelanja di toko-mu sekitar Rp.1.000.000 ke atas, waspadai pembelian di bawah Rp.500.000, kenapa? Karena transaksi yang tidak lazim seringkali menjadi indikator aktifitas penipuan.

Kamu tidak perlu langsung memblokir transaksi-transaksi ini, karena tentu saja, bisa jadi mereka bukan penipu. Namun, dengan mewaspadai pembelian seperti ini, kamu akan lebih berhati-hati dan meninjau ulang dengan sangat teliti, dan ketika penipuan itu benar terjadi kamu akan langsung segera menemukannya sebelum terlambat.

Tindakan pencegahan ini bisa dilakukan dengan menelepon konsumen untuk memastikan pembelian, atau melakukan hal-hal sederhana seperti mengecek Google Maps untuk memastikan kemana barang diantarkan dan apakah sesuai dengan yang diharapkan.

Beberapa langkah di atas juga telah dilakukan oleh situs-situs yang rentan disusupi oleh para penipu. Kebanyakan situs ini adalah situs-situs yang melibatkan transaksi digital dalam kegiatannya seperti misalnya situs-situs agen judi oline seperti http://www.mahaku.org, untuk menjaga kegiatan di dalam situsnya terhindar dari penipuan dan mengganggu kenyamanan konsumen lain.